Selasa, 29 Januari 2013

Undergod

Awal mula berdirinya UNDERGOD


“AING hirup di tanah Sunda. Geus hiji kawajiban ngamumule Ki Sunda. Mun urang bule bangga ngomong make basana sorangan, ku naon urang henteu.” Itulah kalimat yang terlontar dari mulut Kinoy Bacok saat ditanya perihal alasan memilih kesundaan sebagai ciri khas Undergod.
Profil Band Undergod - SEMPAT DIANGGAP SEBELAH MATA, KESUNDAAN KINI JADI TRADEMARK YANG MELEKAT ERAT DI TUBUH UNDERGOD. HASILNYA, MEREKALAH SATU-SATUNYA BAND YANG DISEMATI LABEL SUNDANESE TECHNICAL DEATH METAL.
“Ku jalan nyieun lirik lagu make Basa Sunda, ngomong sapopoe, jeung make iket ieu, urang hayang mere tangara ka balarea yen urang Sunda teh eksis dina sagala widang,” cetus Kinoy lagi sambil menempelkan telunjuk ke kepalanya yang memang dibebat iket Sunda.
Profil Band Undergod
Kinoy selalu bicara berapi-api tentang Sunda, termasuk cap kampungan yang diterimanya saat pertama kali memutuskan memakai Basa Sunda dalam lagu-lagu Undergod. “Sumpah, baheula mah babaturan sorangan ge protes gara-gara urang nyieun lagu make Basa Sunda. Tapi, urang milih panceg kana eta pilihan. Alhamdulillah, hasilna jiga ayeuna. Da ari kahayang dina hate leutik mah, band kami ge make kecap Sunda. Lain Undergod. Tapi da geus kagok,” tukasnya.
Dibalut kualitas musik yang memang keren, keputusan Kinoy tersebut akhirnya menuai hasil positif. Bahkan kini Undergod begitu identik dengan tradisi Sunda. Mereka termasuk satu dari sedikit band yang dengan kesadaran penuh menyelipkan tradisi leluhur dalam setiap aksi panggung.
Nama Undergod mulai menjulang setelah tampil di panggung Bandung Death Fest 3. Di acara yang dihadiri lebih dari 3.000 penonton itu, Undergod layak dijadikan sebagai salah satu performer terbaik. Padahal jauh sebelum itu, Undergod nyaris kandas setelah mengalami stagnasi selama tiga tahun sejak 2004.
Dibentuk pada 2004, Undergod mengawali eksistensi mereka dengan formasi Kinoy (vokal), Said (gitar), Abas (bass), dan Uti (drum). Namun, dengan formasi seperti itu, laju Undergod tidak berjalan mulus. Mereka sempat mengalami kebuntuan dalam bermusik. Beruntung mereka akhirnya sanggup melewati masa-masa sulit tersebut.
Keputusan mengubah formasi dengan menggeser Abas dari bassis menjadi penggebuk drum, jadi manuver brilian yang akhirnya mengubah garis tangan Undergod. Terlebih lagi setelah formasi anyar tersebut mampu menelurkan sebuah lagu berjudul Cai Kawantun. Singel pertama ini dirilis di bawah Pieces Records.
Nama Undergod makin berkibar setelah merilis lagu berjudul Kudak-kadek sebagai singel kedua. Di lagu ini mereka menggandeng Aki Amenk (Disinfected). Karena merasa pol dengan komposisi Kudak-kadek, Undergod menyertakan nomor ini dalam kompilasi Padiga (Panceg Dina Galur Compilation, 2009).
Lagu lain yang tak kalah impresif adalah Saguru Saelmu Tong Ngaganggu, yang kemudian terpilih jadi salah satu materi kompilasi Brutally Sickness yang dirilis Extreme Soul Productions.
Kini membicarakan Undergod adalah juga membicarakan pula tentang kesundaan. Mereka sukses menjadikan Ki Sunda sebagai teror baru yang sanggup mengusik sudut pandang anak muda. Dan hasilnya, mereka jadi satu-satunya band yang musiknya mendapat sebutan Technical Sundanese Death Metal.

Personel

2004
Kinoy-vokal
Said-gitar
Abas-bas
Uti-drum
2007
Kinoy-vokal
Said-gitar
Abas-drum
2010
Kinoy-vokal
Diaz-gitar
Ega-bas
Abas-drum










PROFIL DeadSquad - INDONESIANTUNES.com

PROFIL DeadSquad - INDONESIANTUNES.com

Sejarah Burgerkill


Asal                   : Bandung, Indonesia
Genre                 : Metalcore, Death metal
Tahun aktif         : 1995–sekarang
Label                 : Revolt! Records
                                Xenophobic Records (Australia)
Situs web           : http://www.burgerkillofficial.com
Anggota :
  • ·         Vicky
  • ·         Ebenz
  • ·         Agung
  • ·         Andris
  • ·         Ramdan
Mantan anggota :
  • ·         Ivan
  • ·         Kimung
  • ·         Dadan
  • ·         Ugum
Burgerkill adalah sebuah band metalcore yang berasal dari kota Bandung, Jawa Barat.
Nama band ini diambil dari sebuah nama restaurant makanan siap saji asal Amerika, yaitu Burger King, yang kemudian oleh mereka diparodykan menjadi "Burgerkill".
Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995 berawal dari Eben, scenester dari Jakarta yang pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Dari sekolah itulah Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya.
Mereka berhasil merilis single pertamanya lewat underground phenomenon Richard Mutter yang merilis kompilasi cd band-band Bandung pada awal 1997. Nama lain seperti Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell juga bercokol di kompilasi yang berjudul Masaindahbangetsekalipisan tersebut.
Pada akhir tahun 1997 mereka kembali ikut serta dalam kompilasi Breathless dengan menyertakan lagu Offered Sucks didalamnya. Awal tahun 1998 perjalanan mereka berlanjut dengan rilisan single Blank Proudness, pada kompilasi band-band Grindcore Ujungberung berjudul Independent Rebel.
Disekitar awal tahun 1999, mereka mendapat tawaran dari perusahaan rekaman independent Malaysia, Anak Liar Records yang berakhir dengan deal merilis album Three Ways Split bersama dengan band Infireal (Malaysia) dan Watch It Fall (Perancis).
Pada tahun 2000, akhirnya Burgerkill berhasil merilis album perdana mereka dengan title Dua Sisi oleh Riotic Records. Pada tahun yang sama, band ini juga merilis single Everlasting Hope Never Ending Pain lewat kompilasi Ticket To Ride.
Mereka menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik pada tahun 2000. Awal tahun 2001 pun mereka berhasil melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan produk sport apparel asal Amerika: Puma yang selama 1 tahun mensupport setiap kali Burgerkill melakukan pementasan. Dan sejak Oktober 2002 sebuah produk clothing asal Australia: INSIGHT juga mensupport dalam setiap penampilan mereka.
Pertengahan Juni 2003, Burgerkill menjadi band Hardcore pertama di Indonesia yang menandatangani kontrak sebanyak 6 album dengan salah satu major label terbesar di negeri ini, Sony Music Entertainment Indonesia. Dan setelah itu akhir tahun 2003, Burgerkill berhasil merilis album kedua mereka dengan title Berkarat.
Pada pertengahan tahun 2004, lewat album Berkarat Burgerkill masuk kedalam salahsatu nominasi dalam salah satu event Achievement musik terbesar di Indonesia Ami Awards. Dan secara mengejutkan mereka berhasil menyabet award tahunan tersebut untuk kategori Best Metal Production.
Di awal tahun 2005, Toto memutuskan untuk meninggalkan band tersebut. Mereka kembali merombak formasinya dengan memindahkan Andris dari posisi Bass ke posisi Drums dan terus melanjutkan proses penulisan lagu dengan menggunakan additional bass player.
November 2005, Burgerkill memutuskan kontrak kerjasama dengan Sony Music Entertainment Indonesia dikarenakan tidak adanya kesepakatan dalam pengerjaan proyek album ketiga. mereka sepakat untuk tetap merilis album ke-3 Beyond Coma And Despair di bawah label mereka sendiri Revolt! Records di pertengahan Agustus 2006. Album ini pun menjadi salah satu album terbaik di Rolling Stone Indonesia.[1]
Ivan sang vokalis akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di tengah-tengah proses peluncuran album baru mereka di akhir Juli 2006. Setelah melewati proses Audisi Vokal, mereka menemukan Vicki sebagai Frontman baru untuk tahap berikutnya dalam perjalanan karier mereka.
Dan pada awal Januari 2007 mereka telah sukses menggelar serangkaian tour di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali dalam rangka mempromosikan album baru mereka. Tahun 2009 menggelar konser "Allegiance to Metal Tour 2009" bersama Psycroptic dan Nemesis.
Band ini pernah satu panggung dengan beberapa band luar deperti The Black Dahlia Murder, As I Lay Dying, dan Himsa. Band ini juga menandatangani kontrak dengan Xenophobic Record Australia. Band ini juga akan merilis album baru mereka, Venomous pada bulan Juni 2011.
Album Studio:
·         Dua Sisi (2000)
·         Berkarat (2003)
·         Dua Sisi Repacked (2005)
·         Beyond Coma and Despair (2006)
·         Venomous (2011)
Pranala luar
Situs resmi Burgerkill.
Konser di Australia, Burgerkill Gelar Farewell Party. Berita di bandung.detik.com
Video burgerkill di Youtube.com
burgerkill di Myspace.com


Aftercoma Rilis Album Breathless


 
 AFTERCOMA awalnya hanya sebuah proyek solo Ridho Fatwerks. Namun, proyek ini akhirnya berevolusi menjadi sebuah konstruksi band pada 2008. Tak perlu menunggu waktu terlalu lama bagi Aftercoma untuk membuktikan eksistensi sebagai sebuah band. Sebuah EP yang diberi tajuk Breath, mereka rilis pada tahun itu juga. Mereka membebaskan seluruh materi di EP tersebut untuk diunduh lewat sejumlah situs.

Cara itu terbukti ampuh untuk mengerek nama Aftercoma. EP Breath bergaung cukup kencang, sehingga kesempatan untuk melabrak panggung demi panggung di scene Bandung Underground pun silih berdatangan. Mulai dari gigs kecil sampai panggung besar. Seiring dengan itu, Aftercoma mulai merenggut massa fanatik.

Massa fanatik Aftercoma kemudian menamakan diri mereka Pemberontak alias Rebels. Nama ini diambil dari singel pertama Aftercoma yang termuat dalam EP Breath.

Musik Aftercoma berfondasi pada hardcore. Namun, mereka juga memperkaya resam musik mereka dengan nuansa heavy metal, punk, dan death metal. Bahkan mereka tidak memungkiri jika ada unsur dari Radiohead, Sigur Ros, atau Explosions in The Sky.

Memasuki tahun 2011, Aftercoma merilis album pertama mereka yang diberi tajuk Breathless. Ini tak lain adalah repackage dari EP Breath, dengan penambahan lima lagu baru. Di album ini, Aftercoma mengajak Ipang BIP untuk berkolaborasi dalam lagu Raga Terbakar. Kolaborasi ini sekaligus peneguhan bahwa musik Aftercoma

FORMASI:
  • Wyl Mthrfckr-vokal
  • Ridho Fatwerks Alhadi-gitar/vokal
  • Ferry Arliansyah-gitar
  • Dikdik Prasetiadi-bass
  • Uus Pluto-drum